Antologi Puisi Sajak dari Ibu
Karya Upik Samantamuh
Gerombolan semut
Dulu kulihat kobaran api menari-nari
menyajikan lantunan memori yang hanyut dalam nalar
Tak terasa air pun terjun mengalir
Dan aku tersungkur dengan keadaan ini,
Menyerah dalam kalut sepi.
Kini gerombolan semutpun tak lagi satu
Mereka saling beradu
Tapi diam dalam kemelut
kemelut
Perjalanan tanpa arah
Mengundang senyum tanpa makna
Mengundang tawa tanpa kata
Menjalin cinta tanpa kasih
Tanpa harapan…
Tanpa suatu apa
Arah tanpa tujuan
Makna tanpa senyum
Kata tanpa tawa
Kasih tanpa cinta
Hambar semuanya
Ruang Pemanggangan
Ketika itu aku jadi pengemis tatapan
Harap cemas dari lemparan muka
Karena paksaan yang menimpaku
Aku gagap tak bernyawa
Tapi mereka tak tahu
Apa yang dicemaskan angin terhadap debu
Yang menjadikan dia kelabu
Suasanapun mengundang hangat tanpa api
Memandikan kucuran keringat
yang mengalir disetiap tatapan
Tawa Canda
Suara pecah bergerutu dengan petikan senar
Bersamaan dengan kulit yang didendangkan
Tapi dengan kepolosan palsu mereka
Jadikan tawa merindukan canda
Sapihan takdir
Sedih aku menyapih takdir
Melarikan diri dari kenyataan
Tanpa memberikannya bekal harapan
Aku ingin kau pergi
tapi ingin ku…
Kau disini
Tanpa tujuan latar kau berjalan
Menyampaikan keluh tangis manja
Pada senja...
kau kembali padaku
menemaniku
Tandu kematian
Kelembaban suaramu menyingkap sejuta tema
Dengan semburan seribu kata
Kau tembakan peluru-peluru angin yang berhembus
Tatkala kau diam menyimpan kotoran memori
Aku tersentak melihatmu
Melangkah dengan tandu kematian
Jejaka
Seorang jejaka kini tak lagi sendiri
Melemparkan butiran semangat pada sadar
Tanpa meniduri malam yang kelam
Disisi gelap tanpa cahya
Kau kini berlalu tanpa sendiri
Memulai awal pada zaman
Aku senyum bersama canda
Merangkulmu tanpa tanya
Huruhara
Hari ini langit didatangi awan hitam
Dengan angin menyapu debu
Tetesan airpun jatuh berhamburan
Mirip sekali dengan hujan
Kecemasan itu datang
Dengan ditemani huru hara
Mereka menyelam dalam canda
Aku tak mau mereka datang
Canda itu sekarang menyatu dengan huru hara
Ia bersamanya pada hari itu
Tak ada yang bisa menghalangi
Karena semua takdir Tuhan
Kesendirian 1
Kesendirianmu pada keramaian
Membuatku ingat pada kesedihan
Kau membuatku merindukan laut pada air
Merindukan ranting pada daun
Merindukan tanah pada rumput
Merindukan pena pada tinta
Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
yang akan membanjiri lautan
Tak sempat aku bertanya pada laut
yang merindukan air
Tak terpikir olehku bertanya pada ranting
yang merindukan daun
Tak terlintas dipikiranku bertanya pada tanah
yang merindukan rumput
Dan kupun tak ingat untuk bertanya pada pena
yang merindukan tinta
Kesendirian 2
Kesendirianmu pada keramaian
Mengundang seribu tanya
Membuatku ingat pada kesedihan
Mencemaskanku pada kegalauan
Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
Yang akan membasahi awan pada hujan
Ku ingin kau pergi pada keramaian
Untuk membuang seribu tanya
Kuingin kau genggam impian dengan kenyataan
Tanpa membasahi awan pada hujan
Samantamuh
Aku hanya ingin membawa kabar pada koran
Memberikannya sejumlah kebahagiaan
dan Sebelum kau tahu koran
Kau berbalut kesedihan
Umurmu yang kini berkepala enam
Tak gentar melawan zaman
Kau habiskan waktumu
Seperti bulan yang hadir pada malam
Aku tak mungkin meninggalkan bulan pada malam
Kau selalu memberikanku cahaya
Aku begitu sedih melihat keadaan ini
Kau terpojok disela-sela pintu
Dengan ketakutan yang mengganjal
Aku ingin memelukmu
Menghadirkan senyum indah diwajahmu
Mencoba menghilangkan kegundahan atas sedihmu
Kau tercengang melihatku
Letus merapi
kemarin merapi meletus
menumpahkan kotoran-kotoran
yang terpendam dalam perut
mungkin tak kuasa menahan kentut
Merapi meletus kembali
dengan mengeluarkan penyakit-penyakit
mulai dari penyakit sesak napas
hingga penyakit tutup usia
Merapi kini sudah tua
dengan batuk bebatuan
dia menghembuskan napas panas
dan ingusnya membakar yang ada
dialah merapi...
merapi yang kini meletus
merapi yang sudah tua
Rindu Indonesiaku
Indonesia kini
Bukan Indonesiaku yang dulu
Negri yang kini dikotori luapan napsu
Menjadikan semakin kelabu
Aku rindu indonesiaku yang dulu
Sejatera lagi sentosa
Tanpa adanya sikap biadab
Kini indonesiaku menangis
Menumpahkan air dari laut
Memuntahkan api dari kawah
Meniupkan angin kehancuran
Menggetarkan ranah kehidupan
Memporak-porandakan negri kelam
Aku rindu indonesiaku yang dulu…
intermezzo kematian
Umur kian menipis
Ajal kian menyapa
Kegundahan ku pada ajal
Seperti air meninggalkan laut
Kian lama tubuh kian layu
Bagai daun yang berguguran
Tenaga bukan lagi mesin
Otakpun tak lagi guna
ah...Izrail menunggu memorandum
Aku lemah tak berdetak
Menimpa kata
Menyapa Tuhan...
dan Mati meningglkan asa
Sepi
Lelaki dulu sendiri
Sepi…
Tak ada yang menemani
Sekarang lelakipun sendiri
Ramai…
Mendekat dalam sepi
Interpretasi cakrawala
Membaca Koran
Membaca kehidupan
Mozaik keindahan
Luasnya cakrawala
Wawasan terbuka
Indahnya informasi
Kemegahan jiwa
terbentang di peluluk mata
kota lamun
kota bukan lagi kota
disana terlihat sudut kebingungan
tanpa adanya pojok kebahagiaan
kota itu bukan lagi kota
pencarian peta kehidupan
ditiap langkah pengakuan
ahh..hidup kacau
penuh rezki
berlinang harta
miskin budi
Tobat Mengingatku
Tobatku berbisik hati
jagalah ragamu
Tobatku menyapa raga
Ikutilah hatimu
Tobatku berbicara pada mulut
jaga lisanmu
Tobatku membisikkan telinga
dengarlah baiknya
Tobatku berkata pada mata
jaga pandanganmu
Tobatku memanggil kaki
jagalah langkahmu
Dan tobatku berteriak pada hidup
Ingatlah matimu…
Akupun berucap pada tobat…
Terimakasih…
kau mengingatku
Senyuman Hati
Seonggok daging kini tak segar lagi
Mengkerut, pucat tak berarti
Mengeluh tak henti
Sendiri dalam jiwa sepi
Ramai dalam lamunan tiba
tapi...
Senyum hatimu menyapa jiwaku
Mengetuk pintu sadarku
Menimpa relung batinku
Aku ingat tekadmu...
Kau tetap kuat dengan akar kakimu
Melangkah,
dan menyambung hidup tanpa kata
Ingatkah kau...
Leloncatan air dari awan
Melantunkan percikan pada genteng
Diiringi suara sungai bergemuruh
Bak ombak yang menggulung
Ingatkah kau hari itu?
Bale bambu beralaskan tikar pandan
Yang kuat menopang berat tubuhmu
dengan rumah bilik yang menolongmu
dari dingin dan panas
Ingatkah kau hari itu?
Damar menerangi malam sepi
Selimut menghangatkan tubuh
Hanya kopi hitam dan lisong
yang menemani rondamu
Ingatkah kau hari itu?
Senyuman manja menari
Mengingat masa kecil dalam dekap sepi
Mengubur gelisah, membuang amarah
dan tuk tidur sementara
Ingatkah kau hari itu?
Kesunyian siang
Di kesunyian siang
Teriakan malang bersanding di udara
Menorehkan jiwa dalam senandung lirik
Dengan lantunan melankolis
Kau bernyanyi diam tanpa henti
Akupun mengkerut terdiam
dengan sejuta tanda tanya
Menutup jendela kehidupan
menjamah ranah mimpi yang abstrak
dan terlelap...
di kesunyian siang
Gapura Hati
Dalam dadamu ada gapura hati
Berbentuk lingkaran berdiameter lima centi
Ku ingin lewati itu
Namun, tak ada daya tuk menjamah
Sebab gapuramu…
Tertutup untuk hatiku
Virus Manis
Sapamu padaku
Terngiang dikokleaku
Lebarkan bibir saat tiba khayalku
Aku terkena virus manismu
Ketika itu,
Enam puluh menit
Tidak terdengar sapamu,
Bagai enam puluh jam
Tak jua lihat dirimu
Lucu memang,
Tapi..lamunan itu buatku bahagia
Tanpa terpikir masalah yang ada
dan selalu kunanti itu semua
Lambang kehidupan
Otakmu Kulambangkan Kecerdasan
Matamu Kulambangkan kemegahan
Mulutmu Kulambangkan Perdamaian
Telingamu Kulambangkan Keingintahuan
Tanganmu Kulambangkan Kekuasaan
Kakimu Kulambangkan Kegagahan
Hatimu Kulambangkan Keimanan
dan Ragamu Kulambangkan Kekufuran
Oase dikaki Gunung
Sorotan bulan menerang dipermukaan gelap
Berikan pantulan pada malam
Menghias pandang dinginnya rasa
Barisan ranting yang menjulur menyambut keheningan
seperti Tentara sambut komandan
bersama roda itu berputar,
terngiang bisikan sunyi mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar
latar ini buatku meratap,
menanyakan suatu apa pada alam
yang ditemani kabut malam
Letih menyapa raga sekejap Mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar
Pagi kini mulai tumbuh
Memancarkan sorotan hangat
Yang menyapu kegelapan
Mengundang embun ditiap tetesan kabut
Pagi membangunkan jiwa
Kecerahan alam kini bersamanya
Teriakan ayam jadi backsound dikala itu
Bak alarm yang berdering
Disuatu pagi dikaki gunung
Aroma pagi menyumbat hidung
Kala itu ku terbangun dari pengikisan penat
Semilir angin bawa rombongan kabut
Jadikan oase ditiap tatapan
Sunyi senyap masih menemaniku
Nikmati indahnya ranah kehidupan
Yang berbeda disuatu pagi
Dikaki gunung
Karya Upik Samantamuh
Gerombolan semut
Dulu kulihat kobaran api menari-nari
menyajikan lantunan memori yang hanyut dalam nalar
Tak terasa air pun terjun mengalir
Dan aku tersungkur dengan keadaan ini,
Menyerah dalam kalut sepi.
Kini gerombolan semutpun tak lagi satu
Mereka saling beradu
Tapi diam dalam kemelut
Serang, 2010
kemelut
Perjalanan tanpa arah
Mengundang senyum tanpa makna
Mengundang tawa tanpa kata
Menjalin cinta tanpa kasih
Tanpa harapan…
Tanpa suatu apa
Arah tanpa tujuan
Makna tanpa senyum
Kata tanpa tawa
Kasih tanpa cinta
Hambar semuanya
Serang, 2010
Ruang Pemanggangan
Ketika itu aku jadi pengemis tatapan
Harap cemas dari lemparan muka
Karena paksaan yang menimpaku
Aku gagap tak bernyawa
Tapi mereka tak tahu
Apa yang dicemaskan angin terhadap debu
Yang menjadikan dia kelabu
Suasanapun mengundang hangat tanpa api
Memandikan kucuran keringat
yang mengalir disetiap tatapan
Serang, 2010
Tawa Canda
Suara pecah bergerutu dengan petikan senar
Bersamaan dengan kulit yang didendangkan
Tapi dengan kepolosan palsu mereka
Jadikan tawa merindukan canda
Serang, 2010
Sapihan takdir
Sedih aku menyapih takdir
Melarikan diri dari kenyataan
Tanpa memberikannya bekal harapan
Aku ingin kau pergi
tapi ingin ku…
Kau disini
Tanpa tujuan latar kau berjalan
Menyampaikan keluh tangis manja
Pada senja...
kau kembali padaku
menemaniku
serang, 2010
Tandu kematian
Kelembaban suaramu menyingkap sejuta tema
Dengan semburan seribu kata
Kau tembakan peluru-peluru angin yang berhembus
Tatkala kau diam menyimpan kotoran memori
Aku tersentak melihatmu
Melangkah dengan tandu kematian
Serang, 2010
Jejaka
Seorang jejaka kini tak lagi sendiri
Melemparkan butiran semangat pada sadar
Tanpa meniduri malam yang kelam
Disisi gelap tanpa cahya
Kau kini berlalu tanpa sendiri
Memulai awal pada zaman
Aku senyum bersama canda
Merangkulmu tanpa tanya
Serang, 2010
Huruhara
Hari ini langit didatangi awan hitam
Dengan angin menyapu debu
Tetesan airpun jatuh berhamburan
Mirip sekali dengan hujan
Kecemasan itu datang
Dengan ditemani huru hara
Mereka menyelam dalam canda
Aku tak mau mereka datang
Canda itu sekarang menyatu dengan huru hara
Ia bersamanya pada hari itu
Tak ada yang bisa menghalangi
Karena semua takdir Tuhan
Bonang, 2010
Kesendirian 1
Kesendirianmu pada keramaian
Membuatku ingat pada kesedihan
Kau membuatku merindukan laut pada air
Merindukan ranting pada daun
Merindukan tanah pada rumput
Merindukan pena pada tinta
Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
yang akan membanjiri lautan
Tak sempat aku bertanya pada laut
yang merindukan air
Tak terpikir olehku bertanya pada ranting
yang merindukan daun
Tak terlintas dipikiranku bertanya pada tanah
yang merindukan rumput
Dan kupun tak ingat untuk bertanya pada pena
yang merindukan tinta
Bonang, 2010
Kesendirian 2
Kesendirianmu pada keramaian
Mengundang seribu tanya
Membuatku ingat pada kesedihan
Mencemaskanku pada kegalauan
Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
Yang akan membasahi awan pada hujan
Ku ingin kau pergi pada keramaian
Untuk membuang seribu tanya
Kuingin kau genggam impian dengan kenyataan
Tanpa membasahi awan pada hujan
Bonang, 2010
Samantamuh
Aku hanya ingin membawa kabar pada koran
Memberikannya sejumlah kebahagiaan
dan Sebelum kau tahu koran
Kau berbalut kesedihan
Umurmu yang kini berkepala enam
Tak gentar melawan zaman
Kau habiskan waktumu
Seperti bulan yang hadir pada malam
Aku tak mungkin meninggalkan bulan pada malam
Kau selalu memberikanku cahaya
Aku begitu sedih melihat keadaan ini
Kau terpojok disela-sela pintu
Dengan ketakutan yang mengganjal
Aku ingin memelukmu
Menghadirkan senyum indah diwajahmu
Mencoba menghilangkan kegundahan atas sedihmu
Kau tercengang melihatku
Bonang, 2010
Sajakmu
Siang itu, kau memberikan sajak padaku
sajakmu tak bermakna
Tak berarti apa-apa
Sampah pun masih bisa beruang
Aku tidak butuh sajakmumu
Serang, 2010
Letus merapi
kemarin merapi meletus
menumpahkan kotoran-kotoran
yang terpendam dalam perut
mungkin tak kuasa menahan kentut
Merapi meletus kembali
dengan mengeluarkan penyakit-penyakit
mulai dari penyakit sesak napas
hingga penyakit tutup usia
Merapi kini sudah tua
dengan batuk bebatuan
dia menghembuskan napas panas
dan ingusnya membakar yang ada
dialah merapi...
merapi yang kini meletus
merapi yang sudah tua
Bonang, 2010
Rindu Indonesiaku
Indonesia kini
Bukan Indonesiaku yang dulu
Negri yang kini dikotori luapan napsu
Menjadikan semakin kelabu
Aku rindu indonesiaku yang dulu
Sejatera lagi sentosa
Tanpa adanya sikap biadab
Kini indonesiaku menangis
Menumpahkan air dari laut
Memuntahkan api dari kawah
Meniupkan angin kehancuran
Menggetarkan ranah kehidupan
Memporak-porandakan negri kelam
Aku rindu indonesiaku yang dulu…
Bonang, 2010
intermezzo kematian
Umur kian menipis
Ajal kian menyapa
Kegundahan ku pada ajal
Seperti air meninggalkan laut
Kian lama tubuh kian layu
Bagai daun yang berguguran
Tenaga bukan lagi mesin
Otakpun tak lagi guna
ah...Izrail menunggu memorandum
Aku lemah tak berdetak
Menimpa kata
Menyapa Tuhan...
dan Mati meningglkan asa
serang, 2010
Sepi
Lelaki dulu sendiri
Sepi…
Tak ada yang menemani
Sekarang lelakipun sendiri
Ramai…
Mendekat dalam sepi
Serang, 2010
Interpretasi cakrawala
Membaca Koran
Membaca kehidupan
Mozaik keindahan
Luasnya cakrawala
Wawasan terbuka
Indahnya informasi
Kemegahan jiwa
terbentang di peluluk mata
serang, 2010
kota bukan lagi kota
disana terlihat sudut kebingungan
tanpa adanya pojok kebahagiaan
kota itu bukan lagi kota
pencarian peta kehidupan
ditiap langkah pengakuan
ahh..hidup kacau
penuh rezki
berlinang harta
miskin budi
serang, 2010
Tobat Mengingatku
Tobatku berbisik hati
jagalah ragamu
Tobatku menyapa raga
Ikutilah hatimu
Tobatku berbicara pada mulut
jaga lisanmu
Tobatku membisikkan telinga
dengarlah baiknya
Tobatku berkata pada mata
jaga pandanganmu
Tobatku memanggil kaki
jagalah langkahmu
Dan tobatku berteriak pada hidup
Ingatlah matimu…
Akupun berucap pada tobat…
Terimakasih…
kau mengingatku
Serang, 2010
Senyuman Hati
Seonggok daging kini tak segar lagi
Mengkerut, pucat tak berarti
Mengeluh tak henti
Sendiri dalam jiwa sepi
Ramai dalam lamunan tiba
tapi...
Senyum hatimu menyapa jiwaku
Mengetuk pintu sadarku
Menimpa relung batinku
Aku ingat tekadmu...
Kau tetap kuat dengan akar kakimu
Melangkah,
dan menyambung hidup tanpa kata
Bonang, 2010
Leloncatan air dari awan
Melantunkan percikan pada genteng
Diiringi suara sungai bergemuruh
Bak ombak yang menggulung
Ingatkah kau hari itu?
Bale bambu beralaskan tikar pandan
Yang kuat menopang berat tubuhmu
dengan rumah bilik yang menolongmu
dari dingin dan panas
Ingatkah kau hari itu?
Damar menerangi malam sepi
Selimut menghangatkan tubuh
Hanya kopi hitam dan lisong
yang menemani rondamu
Ingatkah kau hari itu?
Senyuman manja menari
Mengingat masa kecil dalam dekap sepi
Mengubur gelisah, membuang amarah
dan tuk tidur sementara
Ingatkah kau hari itu?
Bonang, 2010
Di kesunyian siang
Teriakan malang bersanding di udara
Menorehkan jiwa dalam senandung lirik
Dengan lantunan melankolis
Kau bernyanyi diam tanpa henti
Akupun mengkerut terdiam
dengan sejuta tanda tanya
Menutup jendela kehidupan
menjamah ranah mimpi yang abstrak
dan terlelap...
di kesunyian siang
Serang, 2010
Gapura Hati
Dalam dadamu ada gapura hati
Berbentuk lingkaran berdiameter lima centi
Ku ingin lewati itu
Namun, tak ada daya tuk menjamah
Sebab gapuramu…
Tertutup untuk hatiku
Bonang, 2010
Virus Manis
Sapamu padaku
Terngiang dikokleaku
Lebarkan bibir saat tiba khayalku
Aku terkena virus manismu
Ketika itu,
Enam puluh menit
Tidak terdengar sapamu,
Bagai enam puluh jam
Tak jua lihat dirimu
Lucu memang,
Tapi..lamunan itu buatku bahagia
Tanpa terpikir masalah yang ada
dan selalu kunanti itu semua
Bonang, 2010
Lambang kehidupan
Otakmu Kulambangkan Kecerdasan
Matamu Kulambangkan kemegahan
Mulutmu Kulambangkan Perdamaian
Telingamu Kulambangkan Keingintahuan
Tanganmu Kulambangkan Kekuasaan
Kakimu Kulambangkan Kegagahan
Hatimu Kulambangkan Keimanan
dan Ragamu Kulambangkan Kekufuran
Bonang, 2010
Oase dikaki Gunung
Sorotan bulan menerang dipermukaan gelap
Berikan pantulan pada malam
Menghias pandang dinginnya rasa
Barisan ranting yang menjulur menyambut keheningan
seperti Tentara sambut komandan
bersama roda itu berputar,
terngiang bisikan sunyi mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar
latar ini buatku meratap,
menanyakan suatu apa pada alam
yang ditemani kabut malam
Letih menyapa raga sekejap Mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar
Pagi kini mulai tumbuh
Memancarkan sorotan hangat
Yang menyapu kegelapan
Mengundang embun ditiap tetesan kabut
Pagi membangunkan jiwa
Kecerahan alam kini bersamanya
Teriakan ayam jadi backsound dikala itu
Bak alarm yang berdering
Disuatu pagi dikaki gunung
Aroma pagi menyumbat hidung
Kala itu ku terbangun dari pengikisan penat
Semilir angin bawa rombongan kabut
Jadikan oase ditiap tatapan
Sunyi senyap masih menemaniku
Nikmati indahnya ranah kehidupan
Yang berbeda disuatu pagi
Dikaki gunung
Ciomas, 2010
Bintang pun Bicara
:Untuk abah
bintang tak lagi diam
mengingatkan pesan pada bulan
membentuk gugusan bintang kemintang
yang kini indah dimalam kelam
pada gugusan itu ia berikan tanda
seperti morse yang mewakili kata
kelap kelip jadi manja
tanpa sepatah kata…
bintang pun kini bicara
mengalunkan kasih pada cinta
yang lama terpendam dalam cahya
tersentak aku oleh makna
pada gemerlap tulisan asa
tersimpan sejuta kisah
disepertiga malam yang indah
Bonang, 2010
Mimpi dalam Mimpi
Dalam imaji tidurku
Aku berlari kesana kemari
Membuatku lelah tanpa henti
Akupun bermimpi, tertidur dalam dekap sepi
Dengarkan dongeng ibu lembut damaikan hati
Aku tersadar dengan membuka kelopak mata
Dan bernalar yang sudah tertata
Bingung menghantui karna aku
bermimpi dalam mimpi
Serang, 2010
Garetan pena
Garetan pena terus berlari menuju takdirnya
Melenggangkan tubuh dengan kelenturan kakinya
Terus dan terus melangkah ikuti jejak
Tanpa berteriak kata
Horizontal pun jadi bengkok
Melumpuhkan takdir yang didambanya
Perlahan menggerakkan sisasisa tinta
Yang tinggal hanyalah insan prakata
Serang, 2010
Sajak Sajak Patung
kumpulan patung kini bergerak
melihat dunia pada sajak
torehan tinta pun jadi rampaian kata
jadikan mereka pandai bicara
kumpulan patung pun kini berlari
menghirup kata tanpa henti
mengintari makna dalam langkah sepi
jejaki hidup pada intuisi hati
Indahnya dunia
Indahnya..
sajaksajak patung
Serang, 2010
Sajak dari Ibu
:untuk ibu tercinta
tahun ini masa yang ku kenang slalu
berikan metamorposis pada aku
yang dulu pesimis lagi kaku
kemarin aku dapat sajak dari ibu
seperti surat kasih terhadap cinta
menyemangatiku dalam tiap langkah
dia slalu berikan cairan emas pada batu
disamping mutiara yang laku
kini batupun bukan lagi batu
ialah sebongkah emas yang ditunggu
tuk jadikanku penyemangatmu
dalam tiap langkah dan nafasmu
Serang, 2010
Dipenghujung Negeri Kelam
di Penghujung Negeri
pemujaan mu terhadap malu tak sebesar biji zarahpun
kau terlalu mengubar nafsu tuk kau nikmati
percayalah, kau takkan bisa tersenyum ketika kau di akhir tahun ini
kau kan termenung,
diam , sendiri dalam keramaian
tak ada lagi tamu yang sudi menengokmu
pikirkanlah sikapmu yang menggelintirkan rodaroda kelam
jangalah menarikan tarian hina di mata dunia
tanah kau pun bukan lagi Tanah Air
Beta pun takkan lagi betah melihat warisannya terhina
Manakah revormasi yang merubahmu?
Orde baru atau lamakah yang merombakmu?
Aku lihat dulu, dulu sekali
Kau tak begini. Sejarahmu menorehkan namamu
Kau tahu bagaimana di penghujung negri ini,
Air ditumpahkan oleh laut
Api dimuntahkan oleh kawah
Angin meniupkan kehancuran
Tanah menggetarkan ranah kehidupan
Semuanya memporakporandakan negeri yang kelam
Mana revolusi yang kau janjikan?
Serang, 2010
Wahai Tanah Air
Wahai Tanah Air…
Jangan biarkan ramai terpenjara dalam kesunyian
Jangan biarkan cahya terpenjara dalam kegelapan
Jangan biarkan canda terpenjara dalam kegundahan
Jangan biarkan tenang terpenjara dalam kepenatan
dan jangan biarkan tawa terpenjara dalam kesedihan
serta jangan biarkan hati ini terpenjara oleh nafsu
tapi…
biarkanlah kesunyian terpenjara dalam ramai
biarkanlah kegelapan terpenjara dalam cahya
biarkanlah kegundahan terpenjara dalam canda
biarkan kepenatan terpenjara dalam tenang
dan biarkanlah kesedihan terpenjara dalam tawa
serta biarkanlah nafsu ini terpenjara dalam hati
bangkitlah wahai Tanah Air…
BONANG, 2010
Aku
Aku bukanlah mawar
yang selalu senyum ketika mekar
Aku bukanlah api
yang bersemangat ketika berkobar
Aku bukanlah air
yang riang ketika mengalir
Aku bukanlah tawa
yang tersenyum ketika canda
Aku bukanlah sepi
yang hening ketika sendiri
Aku bukanlah angin
yang sejuk ketika berhembus
Aku bukanlah cahaya
yang terang ketika tersinar
Aku bukanlah duri
yang menyakitkan ketika menusuk
Aku bukanlah daun
yang menemani sang ranting
Aku bukanlah senyum
yang terkembang ketika senang
Aku bukanlah malaikat
yang tak kenal dosa
Aku bukanlah setan
yang tak kenal tuhan
tapi aku adalah aku
yang kenal diri ini sendiri
Bonang, Januari 2011
Benua Kegelisahan
Sepuntung gelisah yang kini menerpa
Buat ku lari, tanpa lihat arah angin
Bingung melihat keadaan ini yang makin menghimpit
Diriku diantara benua kegelisahan
Bonang, 4 febuari 2011
Secarik PENGENALAN
Upik Samantamuh dengan nama asli Taufik Hidayat. Lahir di Bojongnangka, sebuah Kampung kecil di pinggiran Kota Tangerang pada tanggal 19 Mei 1990. Upik dilahirkan dari keluarga yang sederhana, beranggotakan 5 bersaudara dan Ia adalah anak bungsu dari keluarga H. Nursaman & Hj. Muhati. Upik memulai pendidikannya langsung pada sekolah dasar tanpa mengenyam pendidikan Taman kanak-kanak terlebih dahulu. Ia sekarang sedang memompa ilmu di Universitas Sultan Ageng tirtayasa Semester 3 jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.
Riwayat pendidikannya SDN Bojongnangka, SMPN 1 Legok Tangerang, SMAN 1 Curug Tangerang dan sekarang dia sedang berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan Kampus dengan julukan Small University.
Ia mempunyai keinginan menjadi seorang penyair taraf internasional, dengan memulai mengirimkan karya-karyanya ke media-media lokal.
Dalam kesehariannya pria yang akrab di panggil Opik ini, sangat bersahaja dengan kawan-kawanya, maka jangan heran dia mempunyai banyak teman yang bangga padanya. Itulah seorang Upik, tak pernah melepas senyumnya, selalu berbagi semangat dan dia senang dengan kesederhanaannya.
Komentar
Posting Komentar