Langsung ke konten utama

Antologi Puisi 'Sajak dari Ibu' Upik Samantamuh

Antologi Puisi Sajak dari Ibu 
Karya Upik Samantamuh








Gerombolan  semut   
Dulu kulihat kobaran api menari-nari
menyajikan lantunan memori yang hanyut dalam nalar
Tak terasa air pun terjun mengalir
Dan aku tersungkur dengan keadaan ini,
Menyerah dalam kalut sepi.
Kini gerombolan semutpun tak lagi satu
Mereka saling beradu
Tapi diam dalam kemelut
Serang, 2010





kemelut
Perjalanan tanpa arah
Mengundang senyum tanpa makna
Mengundang tawa tanpa kata
Menjalin cinta tanpa kasih
Tanpa harapan…
Tanpa suatu apa

Arah tanpa tujuan
Makna tanpa senyum
Kata tanpa tawa
Kasih tanpa cinta
Hambar semuanya

Serang, 2010








Ruang  Pemanggangan
Ketika itu aku jadi pengemis tatapan
Harap cemas dari lemparan muka
Karena paksaan yang menimpaku
Aku gagap tak bernyawa

Tapi mereka tak tahu
Apa yang dicemaskan angin terhadap debu
Yang menjadikan dia kelabu
Suasanapun mengundang hangat tanpa api
Memandikan kucuran keringat
yang mengalir disetiap tatapan
  
Serang, 2010








Tawa Canda
Suara  pecah bergerutu dengan petikan senar
Bersamaan dengan kulit yang didendangkan
Tapi dengan kepolosan palsu mereka
Jadikan tawa merindukan canda


Serang, 2010






Sapihan takdir
Sedih aku menyapih takdir
Melarikan diri dari kenyataan
Tanpa memberikannya bekal harapan
Aku ingin kau pergi
tapi ingin ku…
 Kau disini

 Tanpa tujuan latar kau berjalan
Menyampaikan keluh tangis manja
Pada senja...
kau kembali padaku
menemaniku

serang, 2010









Tandu kematian
Kelembaban suaramu menyingkap sejuta tema
Dengan semburan seribu kata
Kau tembakan peluru-peluru angin yang berhembus
Tatkala kau diam menyimpan kotoran memori
Aku tersentak melihatmu
Melangkah dengan tandu kematian 

Serang, 2010







Jejaka
Seorang jejaka kini tak lagi sendiri
Melemparkan butiran semangat pada sadar
Tanpa meniduri malam yang kelam
Disisi gelap tanpa cahya

Kau kini berlalu tanpa sendiri
Memulai awal pada zaman
Aku senyum bersama canda
Merangkulmu tanpa tanya 

Serang, 2010







Huruhara
Hari ini langit didatangi awan hitam
Dengan angin menyapu debu
Tetesan airpun jatuh berhamburan
Mirip sekali dengan hujan

Kecemasan itu datang
Dengan ditemani  huru hara
Mereka menyelam dalam canda
Aku tak mau mereka datang

Canda itu sekarang menyatu dengan huru hara
Ia bersamanya pada hari itu
Tak ada yang bisa menghalangi
Karena semua takdir Tuhan
  
Bonang, 2010








Kesendirian 1 
Kesendirianmu pada keramaian
Membuatku ingat pada kesedihan

Kau membuatku merindukan laut pada air
Merindukan ranting pada daun
Merindukan tanah pada rumput
Merindukan pena pada tinta

Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
yang akan membanjiri  lautan

Tak sempat aku bertanya pada laut
yang merindukan air
Tak terpikir olehku bertanya pada ranting
yang merindukan daun
Tak terlintas dipikiranku bertanya pada tanah
yang merindukan rumput
Dan kupun tak ingat untuk bertanya pada pena
 yang merindukan tinta
Bonang, 2010






Kesendirian 2
Kesendirianmu pada keramaian
Mengundang seribu tanya
Membuatku ingat pada kesedihan
Mencemaskanku pada kegalauan

Kau menyimpan seribu impian
Tanpa berharap datangnya kenyataan
Mataku tak kuasa membendung air
Yang akan membasahi awan pada hujan

Ku ingin kau pergi pada keramaian
Untuk membuang seribu tanya
Kuingin kau genggam impian dengan kenyataan
Tanpa membasahi awan pada hujan

Bonang, 2010










Samantamuh 
Aku hanya ingin membawa kabar pada koran
Memberikannya sejumlah kebahagiaan
dan Sebelum kau tahu koran
Kau berbalut kesedihan

Umurmu yang kini berkepala enam
Tak gentar melawan zaman
Kau habiskan waktumu
Seperti bulan yang hadir pada malam

Aku tak mungkin meninggalkan bulan pada malam
Kau selalu memberikanku cahaya
Aku begitu sedih melihat keadaan ini
Kau terpojok disela-sela pintu
Dengan ketakutan yang mengganjal

Aku ingin memelukmu
Menghadirkan senyum indah diwajahmu
Mencoba menghilangkan kegundahan atas sedihmu
Kau tercengang melihatku

Bonang, 2010










Sajakmu  
Siang itu, kau memberikan sajak padaku
sajakmu tak bermakna
Tak berarti apa-apa
Sampah pun masih bisa beruang
Aku tidak butuh sajakmumu                                                                                                                           
  
Serang2010







Letus merapi
kemarin merapi meletus
menumpahkan kotoran-kotoran
 yang terpendam dalam perut
mungkin tak kuasa menahan kentut

Merapi meletus kembali
dengan mengeluarkan penyakit-penyakit
mulai dari penyakit sesak napas
hingga penyakit tutup usia

Merapi kini sudah tua
dengan batuk bebatuan
dia menghembuskan napas panas
dan ingusnya membakar yang ada

dialah merapi...
merapi yang kini meletus
merapi yang sudah tua 

Bonang, 2010 










Rindu Indonesiaku
Indonesia kini
Bukan Indonesiaku yang dulu
Negri yang kini dikotori luapan napsu
Menjadikan semakin kelabu

Aku rindu indonesiaku yang dulu
Sejatera lagi sentosa
Tanpa adanya sikap biadab
Kini indonesiaku menangis

Menumpahkan air dari laut
Memuntahkan api dari kawah
Meniupkan angin kehancuran
Menggetarkan ranah kehidupan
Memporak-porandakan negri kelam

Aku rindu indonesiaku yang dulu…
  
Bonang, 2010










intermezzo kematian
Umur kian menipis
Ajal kian menyapa
Kegundahan ku pada ajal
Seperti air meninggalkan laut

Kian lama tubuh kian layu
Bagai daun yang berguguran
Tenaga bukan lagi mesin
Otakpun tak lagi guna

ah...Izrail menunggu memorandum
Aku lemah  tak berdetak
Menimpa kata
Menyapa Tuhan...
dan Mati meningglkan asa 

serang, 2010












Sepi
Lelaki dulu  sendiri
Sepi…
Tak ada yang menemani           

Sekarang lelakipun sendiri
Ramai…
Mendekat dalam sepi                                                                                                                                      

Serang, 2010 










Interpretasi cakrawala
Membaca Koran
Membaca kehidupan
Mozaik keindahan
Luasnya cakrawala

Wawasan terbuka
Indahnya informasi
Kemegahan jiwa                                                                  
terbentang di peluluk mata  

serang, 2010











kota lamun
kota bukan lagi kota
disana terlihat sudut kebingungan
tanpa adanya pojok kebahagiaan
kota itu bukan lagi kota
pencarian peta kehidupan
ditiap langkah pengakuan
ahh..hidup kacau
penuh rezki
berlinang harta
miskin budi                                                                                                                                                           

serang, 2010












Tobat Mengingatku
Tobatku berbisik hati
jagalah ragamu
Tobatku menyapa raga
Ikutilah hatimu
Tobatku berbicara pada mulut
jaga lisanmu
Tobatku membisikkan telinga
dengarlah  baiknya
Tobatku berkata pada mata
jaga pandanganmu
Tobatku memanggil kaki
jagalah langkahmu
Dan tobatku berteriak pada hidup
Ingatlah matimu…                                          
Akupun berucap pada tobat…
Terimakasih…
kau mengingatku                                                                                                                                      

Serang, 2010








Senyuman Hati
Seonggok daging kini tak segar lagi
Mengkerut, pucat tak berarti
Mengeluh tak henti
Sendiri dalam jiwa sepi
Ramai dalam lamunan tiba
tapi...
Senyum hatimu menyapa jiwaku
Mengetuk pintu sadarku
Menimpa relung batinku
Aku ingat tekadmu...
Kau tetap kuat dengan akar kakimu
Melangkah,
dan menyambung hidup tanpa kata 
Bonang, 2010






Ingatkah kau...
Leloncatan air dari awan
Melantunkan percikan pada genteng
Diiringi suara sungai bergemuruh
Bak ombak yang menggulung
Ingatkah kau hari itu?

Bale bambu beralaskan tikar pandan
Yang kuat menopang berat tubuhmu
dengan rumah bilik yang menolongmu
dari dingin dan panas
Ingatkah kau hari itu?

Damar menerangi malam sepi
Selimut menghangatkan tubuh
Hanya kopi hitam dan lisong
yang menemani rondamu
Ingatkah kau hari itu?

Senyuman manja menari
Mengingat masa kecil dalam dekap sepi
Mengubur gelisah, membuang amarah
dan tuk tidur sementara
Ingatkah kau hari itu?

Bonang, 2010







Kesunyian siang
Di kesunyian siang
Teriakan malang bersanding di udara
Menorehkan jiwa dalam senandung lirik
Dengan lantunan melankolis
Kau bernyanyi diam tanpa henti
Akupun  mengkerut terdiam
dengan sejuta tanda tanya
Menutup jendela kehidupan
 menjamah ranah mimpi yang abstrak
dan terlelap...
di kesunyian siang 

Serang, 2010










Gapura Hati
Dalam dadamu ada gapura hati
Berbentuk lingkaran berdiameter lima centi
Ku ingin lewati itu
Namun, tak ada daya tuk menjamah
Sebab gapuramu…
Tertutup untuk hatiku

Bonang, 2010












Virus Manis
Sapamu padaku
Terngiang dikokleaku
Lebarkan bibir saat tiba khayalku
Aku terkena virus manismu
Ketika itu,
Enam puluh menit
Tidak terdengar sapamu,
Bagai enam puluh jam
Tak jua lihat dirimu

Lucu memang,
Tapi..lamunan itu buatku bahagia
Tanpa terpikir masalah yang ada
dan selalu kunanti itu semua

Bonang, 2010










Lambang kehidupan
Otakmu Kulambangkan Kecerdasan
Matamu Kulambangkan kemegahan
Mulutmu Kulambangkan Perdamaian
Telingamu Kulambangkan Keingintahuan
Tanganmu Kulambangkan Kekuasaan
Kakimu Kulambangkan Kegagahan
Hatimu Kulambangkan Keimanan
dan Ragamu Kulambangkan Kekufuran 
Bonang, 2010














Oase dikaki Gunung
Sorotan bulan menerang dipermukaan gelap
Berikan pantulan pada malam
Menghias pandang dinginnya rasa
Barisan ranting yang menjulur menyambut keheningan
seperti Tentara sambut komandan
bersama roda itu berputar,
terngiang bisikan sunyi mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar
latar ini buatku meratap,
menanyakan suatu apa pada alam
yang ditemani kabut malam
Letih menyapa raga sekejap Mendamaikan
hati dan jiwa yang bertengkar

Pagi kini mulai  tumbuh
Memancarkan sorotan hangat
Yang menyapu kegelapan
Mengundang embun ditiap tetesan kabut
Pagi membangunkan jiwa
Kecerahan alam kini bersamanya

Teriakan ayam jadi backsound dikala itu
Bak alarm yang berdering
Disuatu pagi dikaki gunung
Aroma pagi menyumbat hidung
Kala itu ku terbangun  dari pengikisan penat
Semilir angin bawa rombongan kabut
Jadikan oase ditiap tatapan
Sunyi senyap masih menemaniku
Nikmati indahnya ranah kehidupan
Yang berbeda disuatu pagi
Dikaki gunung 
Ciomas, 2010






Bintang pun Bicara
:Untuk abah
                                                                                                                                                           
bintang tak lagi diam                                                       
mengingatkan pesan pada bulan
membentuk gugusan bintang kemintang
yang kini indah dimalam kelam
pada gugusan itu ia berikan tanda
seperti morse yang mewakili kata
kelap kelip jadi manja
tanpa sepatah kata…
bintang pun kini bicara
mengalunkan kasih pada cinta
yang lama terpendam dalam cahya
tersentak aku oleh makna
pada gemerlap tulisan asa
tersimpan sejuta kisah
 disepertiga malam yang indah


Bonang, 2010



Mimpi dalam Mimpi

Dalam imaji tidurku
Aku berlari kesana kemari
Membuatku lelah tanpa  henti
Akupun bermimpi, tertidur dalam dekap sepi
Dengarkan dongeng ibu lembut damaikan hati
Aku tersadar dengan membuka kelopak mata
Dan bernalar yang sudah tertata
Bingung menghantui karna aku
bermimpi dalam mimpi 
Serang, 2010


Garetan pena

Garetan pena terus berlari menuju takdirnya
Melenggangkan tubuh dengan kelenturan kakinya
Terus dan terus melangkah ikuti jejak
Tanpa berteriak kata
Horizontal pun jadi bengkok
Melumpuhkan takdir yang didambanya
Perlahan menggerakkan sisasisa tinta
Yang tinggal hanyalah insan prakata

Serang, 2010




Sajak Sajak Patung

kumpulan patung kini bergerak
melihat dunia pada sajak
torehan tinta pun jadi rampaian kata
jadikan mereka pandai bicara
kumpulan patung pun kini berlari
menghirup kata tanpa henti
mengintari makna dalam langkah sepi
jejaki hidup pada intuisi hati
Indahnya dunia
Indahnya..
sajaksajak patung


Serang, 2010




Sajak dari Ibu
:untuk ibu tercinta

tahun ini masa yang ku kenang slalu
berikan metamorposis pada aku
yang dulu pesimis lagi kaku
kemarin aku dapat sajak dari ibu
seperti surat kasih terhadap cinta
menyemangatiku dalam tiap langkah
dia slalu berikan cairan emas pada batu
disamping mutiara yang laku
kini batupun bukan lagi batu
ialah sebongkah emas yang ditunggu
tuk jadikanku penyemangatmu
dalam tiap langkah dan nafasmu


Serang, 2010




Dipenghujung Negeri Kelam

di Penghujung Negeri
pemujaan mu terhadap malu tak sebesar biji zarahpun
kau terlalu mengubar nafsu tuk kau nikmati
percayalah, kau takkan bisa tersenyum ketika kau di akhir tahun ini
kau kan termenung,
diam , sendiri dalam keramaian
tak ada lagi tamu yang sudi menengokmu
pikirkanlah sikapmu  yang menggelintirkan rodaroda kelam
jangalah menarikan tarian hina di mata dunia
tanah kau pun bukan lagi Tanah Air
Beta pun takkan lagi betah melihat warisannya terhina
Manakah revormasi yang merubahmu?
Orde baru atau lamakah yang merombakmu?
Aku lihat dulu, dulu sekali
Kau tak begini. Sejarahmu menorehkan namamu
Kau tahu bagaimana di penghujung negri ini,
Air ditumpahkan oleh laut
Api dimuntahkan oleh kawah
Angin meniupkan kehancuran
Tanah menggetarkan ranah kehidupan
 Semuanya memporakporandakan negeri yang kelam
Mana revolusi yang kau janjikan?

Serang, 2010



Wahai Tanah Air

Wahai Tanah Air…
Jangan biarkan ramai terpenjara dalam kesunyian
Jangan biarkan cahya terpenjara dalam kegelapan
Jangan biarkan canda  terpenjara dalam kegundahan
Jangan biarkan tenang terpenjara dalam kepenatan
dan jangan biarkan tawa terpenjara dalam kesedihan
serta jangan biarkan hati ini terpenjara oleh nafsu
tapi…
biarkanlah kesunyian terpenjara dalam ramai
biarkanlah kegelapan terpenjara dalam cahya
biarkanlah kegundahan  terpenjara dalam canda
biarkan kepenatan terpenjara dalam tenang
dan biarkanlah kesedihan terpenjara dalam tawa
serta biarkanlah nafsu ini terpenjara dalam hati

bangkitlah wahai Tanah Air…

  
BONANG, 2010



Aku

Aku bukanlah mawar
yang selalu senyum ketika mekar
Aku bukanlah api
yang bersemangat ketika berkobar
Aku bukanlah air
yang riang ketika mengalir
Aku bukanlah tawa
yang tersenyum ketika canda
Aku bukanlah sepi
yang hening ketika sendiri
Aku bukanlah angin
yang sejuk ketika berhembus
Aku bukanlah cahaya
yang terang ketika tersinar
Aku bukanlah duri
yang menyakitkan ketika menusuk
Aku bukanlah daun
yang menemani sang ranting
Aku bukanlah senyum
yang terkembang ketika senang
Aku bukanlah malaikat
yang tak kenal dosa
Aku bukanlah setan
yang tak kenal tuhan
tapi aku adalah aku
yang  kenal diri ini sendiri                                                                                         

Bonang, Januari 2011



Benua Kegelisahan
  
Sepuntung gelisah yang kini menerpa
Buat ku lari, tanpa lihat arah angin
Bingung melihat keadaan ini yang makin menghimpit
Diriku diantara benua kegelisahan


Bonang, 4 febuari 2011





Secarik PENGENALAN


Upik Samantamuh dengan nama asli Taufik Hidayat. Lahir di Bojongnangka, sebuah Kampung kecil di pinggiran Kota Tangerang pada tanggal 19 Mei 1990. Upik dilahirkan dari keluarga yang sederhana, beranggotakan 5 bersaudara dan Ia adalah anak bungsu dari keluarga H. Nursaman & Hj. Muhati. Upik memulai pendidikannya langsung pada sekolah dasar tanpa mengenyam pendidikan Taman kanak-kanak terlebih dahulu. Ia sekarang sedang memompa ilmu di Universitas Sultan Ageng tirtayasa Semester 3 jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.
Riwayat pendidikannya SDN Bojongnangka, SMPN 1 Legok Tangerang, SMAN 1 Curug Tangerang dan sekarang dia sedang berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan Kampus dengan julukan Small University.
Ia mempunyai keinginan menjadi seorang penyair taraf internasional, dengan memulai mengirimkan karya-karyanya ke media-media lokal.
Dalam kesehariannya pria yang akrab di panggil Opik ini, sangat bersahaja dengan kawan-kawanya, maka jangan heran dia mempunyai banyak teman yang bangga padanya. Itulah seorang Upik, tak pernah melepas senyumnya, selalu  berbagi semangat dan dia senang dengan kesederhanaannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN Upik

M u s i b a h   y an g M e ng i n g at ka n k u Upik Samantamuh Minggu. 15 Juni 2008 Hari masih menggelintirkan senyuman-senyuman semangat yang dinanti mentari pada pagi. Backsound kongkongan ayampun jelang kegelisahan malam yang tersingkir oleh sorotan matahari yang perkasa, dimana awan mengindahkan cerah dan langit mulai memudarkan kegelapan. Akupun terbangun dengan setengah nyawa yang belum sadarkan jiwa. Tak terasa badan mulai membisikkan rasa yang tak enak kepada tubuh yang berbeda dengan kecerahan pagi. Seketika aku menggeliat di pembaringan dengan penuh pengharapan akan tiap kegelisahan. Aku berteriak   memanggil ibu tuk memeriksa keadaanku, aku sakit pada waktu itu. Selama beberapa jam aku masih berbaring, mencemaskan keadaan yang semakin sakit kurasakan. Aku berkata “inikah cobaan yang menimpa asaku”. Aku memikirkan setiap apa yang telah kualami sebelumnya, aku selalu menyatakan bahwa ini adalah karma, karma yang membalas kesalahanku   tempo dulu. Namaku...

Metamorfosis Malam

Kegelapan yang dipancarkan sang malam memberikan isyarat kepada sang pagi yang menunggu ditepian kalbu bagai sejoli terpisah oleh waktu dimana mereka saling merindu dan kelak merapat mencumbu menyapamu dengan pancaran kalbu diwaktu subuh kala itu, kau berikan sorotan indah yang terpancar mentari dan kegelapan malam beringsut, hilang… sembunyikan kegelisahan pada metamorfosis malam Bonang, 2011