Langsung ke konten utama

Metamorfosis Malam


Kegelapan yang dipancarkan sang malam
memberikan isyarat kepada sang pagi
yang menunggu ditepian kalbu
bagai sejoli terpisah oleh waktu
dimana mereka saling merindu dan kelak merapat mencumbu
menyapamu dengan pancaran kalbu
diwaktu subuh kala itu,
kau berikan sorotan indah yang terpancar mentari
dan kegelapan malam beringsut,
hilang…
sembunyikan kegelisahan
pada metamorfosis malam

Bonang, 2011

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antologi Puisi 'Sajak dari Ibu' Upik Samantamuh

Antologi Puisi Sajak dari Ibu   Karya Upik Samantamuh Gerombolan  semut    Dulu kulihat kobaran api menari-nari menyajikan lantunan memori yang hanyut dalam nalar Tak terasa air pun terjun mengalir Dan aku tersungkur dengan keadaan ini, Menyerah dalam kalut sepi. Kini gerombolan semutpun tak lagi satu Mereka saling beradu Tapi diam dalam kemelut Serang, 2010 kemelut Perjalanan tanpa arah Mengundang senyum tanpa makna Mengundang tawa tanpa kata Menjalin cinta tanpa kasih Tanpa harapan… Tanpa suatu apa Arah tanpa tujuan Makna tanpa senyum Kata tanpa tawa Kasih tanpa cinta Hambar semuanya Serang, 2010 Ruang  Pemanggangan Ketika itu aku jadi pengemis tatapan Harap cemas dari lemparan muka Karena paksaan yang menimpaku Aku gagap tak bernyawa Tapi mereka tak tahu Apa yang dicemaskan angin terhadap debu Yang menjadikan dia kelabu Suasanapun mengundang hangat tanpa api Memandikan kucuran keringat yang mengalir dis...

CERPEN Upik

M u s i b a h   y an g M e ng i n g at ka n k u Upik Samantamuh Minggu. 15 Juni 2008 Hari masih menggelintirkan senyuman-senyuman semangat yang dinanti mentari pada pagi. Backsound kongkongan ayampun jelang kegelisahan malam yang tersingkir oleh sorotan matahari yang perkasa, dimana awan mengindahkan cerah dan langit mulai memudarkan kegelapan. Akupun terbangun dengan setengah nyawa yang belum sadarkan jiwa. Tak terasa badan mulai membisikkan rasa yang tak enak kepada tubuh yang berbeda dengan kecerahan pagi. Seketika aku menggeliat di pembaringan dengan penuh pengharapan akan tiap kegelisahan. Aku berteriak   memanggil ibu tuk memeriksa keadaanku, aku sakit pada waktu itu. Selama beberapa jam aku masih berbaring, mencemaskan keadaan yang semakin sakit kurasakan. Aku berkata “inikah cobaan yang menimpa asaku”. Aku memikirkan setiap apa yang telah kualami sebelumnya, aku selalu menyatakan bahwa ini adalah karma, karma yang membalas kesalahanku   tempo dulu. Namaku...